Roda Kehidupan
Aku tinggal bersama kedua orangtuaku dan kakakku disebuah desa di pegunungan dan jauh dari kota besar. Aku adalah anak dari seorang petani yang penghasilannya tak seberapa. Keluargaku adalah orang nggak punya, kami hidup dengan sederhana. Kami juga sering mendapat hinaan dan yang lainnya dari tetangga kami, tetapi kedua orangtuaku tetap sabar dan menjalani itu semua dengan hati yang ikhlas.
Karena rumahku yang berada di pinggiran desa dan jauh dari jalan raya, serta keramaian,, setiap harinya aku selalu sendirian, tidak ada teman dan merasa kesepian. Tapi aku juga merasa senang karena tanpa teman maka suasana menjadi lebih tenang.
Saat kedua orangtuaku pergi ke kebun aku di rumah hanya dengan kakakku, kakakku lah yang selalu menghiburku dan mengajak aku main. Dirumah aku nggak punya mainan untuk bermain, kalau mau mainan paling cuma menggunakan kayu atau pelepah pisang.
Tujuh tahun sudah usiaku, saatnya aku masuk SD. Sebelum masuk SD aku sempat bertanya kepada ibuku, “kenapa harus sekolah dan apa gunanya sekolah?”. Ibuku menjawab, “sekolah itu penting untuk kehidupanmu kelak nanti”. Aku terus diam dan menuruti kemauan ibuku. Setelah didaftarkan aku pun masuk ke sekolah, sebelum lama aku masuk sekolah saat berangkat sekolah aku selalu diantar ibuku, karena aku adalah anak yang penakut, pemalu, dan cengeng. Setiap hari aku hampir menangis karena teman-temanku dan kakak kelasku menjaili aku.
Sewaktu SD aku termasuk anak yang bodoh, karena kelas tiga aku baru lancar membaca. Dan aku juga salalu direndahin oleh teman-temanku, karena aku anak petani, orang nggak punya, dan bodoh. Aku berusaha sabar dan menerima semua itu, dan aku berjanji akan membanggakan kedua orantuaku. Saat SD nilaiku selalu jatuh bangun, tetapi alhamdulillah aku lulus SD dengan nilai yang cukup baik, sehingga aku bisa membuktikan bahwa aku bisa.
Lulus dari SD aku melanjutkan ke SMP, saat pertama kali masuk SMP aku nggak punya kenalan, aku pun masih asing dengan suasana SMP yang masih baru.
Saat kelas VII aku lumayan senang karena saat itu suasananya masih enak, siswanya masih baik-baik, nggak ada yang jail dan usil, nggak ada yang ngrendahin aku, dan saat itu aku belum tau tentang apa itu yang namanya cinta, dan apa kekuatan cinta itu.
Kelas VII pun usai, sekarang aku naik ke kelas VIII,, di kelas VIII aku dah mulai berfikir kemana-mana, aku jatuh cinta pada teman sekelasku. Aku mulai suka padanya sejak kelas VII, tapi saat aku kelas VIII aku bermimpi bertemu dia, dan saat itulah aku mulai jatuh cinta padanya. Akan tetapi rasa cintaku itu justru membuat hubungan pertemananku menjadi rusak.
Lain soal cinta, di kelas VIII dan IX aku mendapat ujian yang bagiku itu berat, yaitu sikap teman-temanku yang usil dan jail,, tidak hanya itu, mereka juga selalu memancing kesabaranku. Aku yang anaknya pendiam hanya bisa diam dan sabar menghadapi itu semua.
Tidak hanya itu, aku juga sering diejek, direndahin, dihina, dan dijadikan lelucon,. Aku pun hanya bisa diam dan bersabar, aku tidak mungkin melawan mereka semua, karena jika aku melawan mereka itu sama saja dengan mencemarkan nama baik sendiri. Bukannya aku gak berani, tapi emang gak mau membuat masalah disekolah.
Saat ini nilaiku menurun lagi, dan akhir-akhir ini aku sering direndahin oleh temanku yang pintar tapi kelakuannya nggak baik. Yah.. memang dia anaknya pintar, tapi kelakuan dia nggak baik dan dia juga kurang disiplin. Yang membuat aku tidak suka, dia itu kadang-kadang suka menyombongkan diri dsb,.
Ibarat tiang kini aku sedang jatuh dan aku harus berusaha untuk bangkit kembali. Saat ini aku aku sedang mencintai seseorang yang lagi-lagi adalah teman sekelasku juga, tapi orang yang ku maksud sekarang bukan yang dulu,. Yang sekarang adalah sahabatnya yang dulu pernah aku cintai. Mungkin itulah yang membuatku menjadi lemah, atau dalam bahasa Inggrisnya “love make the weak man become strong and the strong man become weak”. Dan sekarang aku sadar bahwa cinta itu bukan sumber kebahagiaan, tapi ketiadaan cinta menjadi sumber derita, “love isn’t the base of happiness, but without love is the base of sadness”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar