Kamis, 02 Januari 2020

HIMADIKTAR 2020



"Negeri ini tidak hanya butuh pemuda pencari solusi, tapi butuh banyak pemuda yang berani membawa perubahan"





Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera, Shalom, Om swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan.
 


Yang kami hormati seluruh Mahasiswa Bidikmisi Universitas Tidar dimanapun berada.

Perkenankan kami @pasangantali (Tofik kaliyan Tahlia) dari nomor: 2
➖2➖
Mohon doa restu dan dukungannya dalam PEMIRA HIMADIKTAR sebagai Calon Ketua dan Wakil Ketua HIMADIKTAR periode 2020.
➖2➖
Bersama @pasangantali
"mengikat dengan kuat, mempererat tanpa sekat, bersama-sama membulatkan tekad"
#saiyegsaekakapti




"Pergerakan dan perubahan tak selalu dimulai dari hal yang besar, karena hal kecil kadang akan lebih berarti. Dari diri sendiri kita lakukan apa yang kita bisa dan berikan manfaat untuk sesama."


"Pemimpin tidak serta merta hanya untuk kekuasaan belaka, melainkan bagaimana caranya mengatur sistem kerja, mengayomi bawahannya, menyelaraskan antara hati, pikiran dan tindakannya serta menunjukkan suatu sikap adil dan bijaksana yang memberikan manfaat untuk sesama."


➖2➖
DuAA HATI
"Dedikatif untuk Aspiratif dan Aplikatif membuat HIMADIKTAR makin Asyik dan Tetap Ideal"



 

Barrakallah..
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



 

➖2➖
#himadiktar2020
#2ribu2puluh_pilih2
#nomor2
#bersamatofikdantahlia
#pasangantali
#saiyegsaekakapti
#adhiganasahwahita



Download Grand Desain HIMADIKTAR 2020 (Tofik-Tahlia) click here



Nb. Segala masukan dapat disampaikan melalui:
Call center: +6282215621718
Follow instagram @pasangantali

Jumat, 31 Mei 2019

Essay tentang Bidikmisi


 MERAIH ASA MENGGAPAI CITA-CITA



Harapan sebagian besar pelajar adalah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengenyam bangku perkuliahan dan merasakan status menjadi mahasiswa tentu hanyalah sebuah impian kecil. Bagi kalangan masyarakat dengan kondisi ekonomi yang berada di kelas menengah ke bawah sangat sedikit yang mempunyai pandangan akan dunia perkuliahan. Beberapa dari mereka menganggap bahwa kuliah membutuhkan biaya yang tak sedikit, hal ini tentu sangat memberatkan jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah payah apalagi harus membayar biaya kuliah.
Beberapa rintangan tidak akan menghalangi suatu tekad kuat yang dimiliki seorang pelajar untuk meraih asa menggapai cita-cita. Kuliah adalah jalan yang harus ditempuh oleh pelajar untuk menggapai apa yang ia cita-citakan. Biaya kuliah ataupun kondisi ekonomi tentu menjadi sebuah kendala, namun percayalah bahwa suatu niat baik akan mudah dicapai. Sesulit apa pun rintangannya pasti akan ada jalan untuk melewatinya.
Seperti yang telah tercantum dalam konstitusi negara Republik Indonesia yakni UUD 1945 pasal 31 disebutkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Berdasarkan pasal tersebut, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan bantuan biaya pendidikan bagi mereka yang memiliki potensi akademik baik dan tidak mampu secara ekonomi serta berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.
Peningkatan pemerataan akses jenjang perguruan tinggi yang tercermin dari Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk melanjutkan ke perguruan tinggi masih rendah dibandingkan dengan negara berkembang pada umumnya. Dengan demikian masih cukup banyak lulusan jenjang pendidikan menengah yang tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi termasuk mereka yang berpotensi akademik baik dari keluarga tidak mampu secara ekonomi. Selain itu peningkatan akses terhadap informasi dan sumber pendanaan juga relatif terbatas.
Berbagai jenis beasiswa dan atau bantuan biaya pendidikan baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun dari dunia usaha atau industri telah diluncurkan. Akan tetapi bantuan yang diberikan relatif belum dapat memenuhi kebutuhan studi, jumlah sasaran dan belum menjamin keberlangsungan studi mahasiswa hingga selesai.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mulai tahun 2010 meluncurkan Program Bantuan Biaya Pendidikan Bidikmisi yaitu bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. Sasaran program Bidikmisi adalah lulusan satuan pendidikan SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lain yang sederajat yang tidak mampu secara ekonomi namun memiliki potensi akademik yang baik.
Bantuan biaya pendidikan diberikan sejak calon mahasiswa dinyatakan diterima di perguruan tinggi selama 8 semester untuk program Diploma IV dan S1, dan selama 6 semester untuk program Diploma III. Beasiswa ini berupa pembebasan dari seluruh biaya pendidikan selama di perguruan tinggi, baik uang pangkal maupun SPP per bulan. Selain itu, mahasiswa penerima beasiswa juga menerima uang saku untuk biaya kuliahnya yang akan diterimanya setiap 6 bulan sekali.
Tujuan diselenggarakannya beasiswa Bidikmisi adalah untuk meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi dan berpotensi akademik baik, memberi bantuan biaya pendidikan kepada calon/mahasiswa yang memenuhi kriteria untuk menempuh pendidikan program Diploma atau Sarjana sampai selesai dan tepat waktu, meningkatkan prestasi mahasiswa, baik pada bidang kurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler, menimbulkan dampak iring bagi mahasiswa dan calon mahasiswa lain untuk selalu meningkatkan prestasi dan kompetitif, dan melahirkan lulusan yang mandiri, produktif dan memiliki kepedulian sosial, sehingga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.
Suatu penghargaan besar bagi pelajar mempunyai tekad kuat untuk berkuliah walau terkendala ekonomi. Pemerintah hadir untuk membantu dan memberikan solusi, melalui program Bidikmisi bantuan pendidikan siap diberi sehingga kendala ekonomi tiada lagi. Kau putra putri Indonesia, kau mutiara yang terpendam, jangan sedih memikirkan susah, kemiskinan jangan jadi penghalang. Ayo bangkitlah bersama, meraih asa menggapai cita-cita, menuju generasi emas Indonesia.

Selasa, 12 September 2017

Masyarakat Desa Wonosido Membagikan Ribuan Ayam Panggang



Wonosido, Kamis (7/9) - Masyarakat desa Wonosido, kec. Pituruh, kab. Purworejo menggelar acara merti desa atau sadranan sedekah bumi pada hari Kamis Kliwon, 7 September 2017.

Merti desa atau sadranan sedekah bumi merupakan tradisi selamatan desa dan ungkapan rasa syukur terhadap Yang Kuasa atas segala nikmat dan rahmat-Nya yang berupa hasil bumi dan ketentraman serta kedamaian masyarakat.

Pada acara merti desa tahun ini masyarakat desa Wonosido membagikan sekitar 3.850 ayam panggang kepada masyarakat desa sekitar dan juga pejabat daerah. Total biaya dalam acara ini mencapai ±300 juta rupiah.





Senin, 06 Februari 2017

Sejarah Terjadinya Desa Wonosido


Sekitar abad 17 kerajaan Pajang runtuh. Berdirilah kerajaan Mataram di daerah hutan Mentaok yang rajanya pada waktu itu Danang Sutowijoyo dengan gelar Panembahan Senopati.

Penduduk asli daerah hutan Mentaok yang pada waktu itu masih beraliran Animisme dan Dinamisme merasa terdesak oleh kebudayaan Islam yang pada waktu itu dibawa masuk oleh Panembahan Senopati beserta pengikutnya-pengikutnya.

Alkisah dengan terdesaknya penduduk asli daerah Mentaok itu, pergilah sekelompok penduduk yang dipimpin oleh Raja Jenggi (Paok) nama aslinya, bersama dengan Godheg putranya, Kontheng keponakannya, beserta Samparangin, dan Mranggi sebagai pengikutnya.


Mereka pertama kali datang di daerah hutan tepi sungai, tempatnya sangat subur dan di daerah tersebut banyak tumbuh tanaman jahe. Dengan tanaman jahe itulah mereka bisa hidup untuk ditukar dengan bahan makanan ke daerah lain, maka daerah yang pertama kali mereka datangi tersebut diberi nama Bejahen.


Setelah bertahun-bertahun tinggal di daerah Bejahen, mereka pindah ke sebelah baratnya. Di daerah tersebut sudah ada penduduk aslinya, diantaranya beberapa wanitanya berparas cantik seperti putri-putri kerajaan. Dengan alasan tersebut maka tempat itu diberi nama Tamansari.


Dari Tamansari mereka naik ke sebelah utara, yaitu daerah perbukitan yang tinggi dan banyak ditumbuhi pohon gedoya yang besar-besar, maka daerah tersebut diberi nama Gedoya, ke sebelah utara sedikit diberi nama daerah Ngaglik, karena keadaan tempatnya yang agak tinggi.


 Dari perbukitan Ngaglik itulah mereka melihat di sebelah utaranya berupa hutan agak datar dan subur. Tetapi hutan tersebut banyak ditumbuhi tumbuhan menjalar berduri tajam, tumbuhan tersebut namanya duriwana (rihwana). Dengan kerja keras membuka hutan tersebut, maka lama-kelamaan didirikanlah suatu desa di daerah tersebut, dengan sulitnya membuka hutan duriwana dan banyak rintangan yang mereka hadapi, maka daerah tersebut diberi nama Wonosido. Wonosido yang artinya berawal dari hutan duriwana setelah dibuka dengan kerja keras dan banyaknya rintangan yang mereka hadapi alhasil bisa terwujud menjadi desa.


Di bumi Wonosido lah Raja Jenggi (Paok) bersama putra dan pengikutnya mulai hidup makmur dan sejahtera. Dengan alasan kemakmuran dan kesejahteraan tersebut maka daerah hutan duriwana juga disebut Bumireja.


Dengan selesainya membuka hutan tersebut, juga dibarengi dengan lahirnya putra bungsu Raja Jenggi (Paok) yang diberi nama Wareng (tubuhnya kecil). Setelah Wareng dewasa mulailah mendirikan pemerintahan desa, dan beliau diberi kuasa untuk mengaturnya. Dengan kelebihan dan kebijaksanaannya dalam mengatur desa, maka Wareng dijuluki Kyai Wonosido karena beliau bisa mendidik dan mengatur warganya menjadi damai, aman, dan sejahtera. Dan beliau juga dinobatkan sebagai Lurah Desa Wonosido yang pertama.


Dalam mengatur pemerintahan Kyai Wonosido membawahi empat (4) wilayah, yaitu:
1.      Wilayah Bumireja (sekarang Krajan)
2.      Wilayah Tamansari
3.      Wilayah Jurangcelong
4.      Wilayah Kedungwungu


Wilayah Bumireja dikendalikan sendiri oleh Kyai Wonosido, wilayah Tamansari dibantu oleh Bluwok dan Citranala, wilayah Jurangcelong dibantu oleh Bluwok dan Rasawana, dan untuk wilayah Kedungwungu dibantu oleh Bagor dan Bakir. Kontheng dan Samparangin bertugas menjaga desa Wonosido secara keseluruhan, Mranggi bertugas merawat pusaka dan senjata yang pada waktu itu dianggap keramat. Sedangkan Godheg putra tertua Raja Jenggi (Paok), pergi ke sebalah barat mendirikan desa Pamriyan. 


Demikian sejarah singkat terjadinya/berdirinya Desa Wonosido, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo yang digali dan diceritakan secara lisan dan turun-temurun oleh tokoh masyarakat/sesepuh Desa Wonosido yang bernama Padmowiryo.



YANG MEMBUKA SEMBUNGGANI DESA WONOSIDO
1.      MBAH RAJA JENGGI (PAOK)
2.      MBAH KONTHENG
3.      MBAH SAMPARANGIN
4.      MBAH WARENG (KYAI WONOSIDO)
5.      MBAH CITRANALA
6.      MBAH BLUWOK
7.      MBAH MRANGGI
8.      MBAH RASAWANA
9.      MBAH BLUWOK
10.  MBAH BAGOR
11.  MBAH BAKIR




PENJAGA PERBATASAN DESA WONOSIDO
1.      TUAN BUYUTAN di WATU KUWUK/GROWONG yaitu antara Desa Wonosido (Bumireja) dengan Desa Kemranggen
2.      BUYUTAN TUAN di PAGER SENGARA yaitu antara Desa Wonosido (Bumireja) dengan Desa Pamriyan
3.      ANTARA LAUTAN di WATU MALANG yaitu antara Desa Wonosido (Jurangcelong) dengan Desa Pamriyan
4.      ANTARA DESA di MLIWIS yaitu antara Desa Wonosido (Jurangcelong) dengan Desa Sawangan
5.      SITEKEK di WRINGIN yaitu antara Desa Wonosido (Kedungwungu) dengan Desa Kaliglagah



Ditulis oleh: NGADIMIN, S.PD.SD. tahun 2015
Disunting dan dipublikasikan oleh: Sidiq Golden dan Tofik Supriyadi